padang bengkok

Arti Istilah “Padang Bengkok” & Stereotip Keliru Lain Pada Orang Minang

Menjadi perantau minang itu penuh siksa dan derita. Pengalaman culture shock menimpa hampir semua orang yang baru merantau, terutama ke wilayah yang bukan akar Minangkabau atau Melayu. Bagaimana tidak, umumnya perantau harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan budaya yang baru. Salah satu hal yang paling menjadi masalah adalah soal selera makan dan bahasa (komunikasi).

Dalam budaya makan orang Minang, belum terasa makan kalau tidak pedas. Sehingga biasanya makanan haruslah pakai cabe dan pastinya pedas. Berbeda dengan lidah orang Jawa yang umumnya menyukai makanan yang manis-manis dan ditambahi kecap. Sehingga wajar saja banyak perantau minang yang home sick, kangen rumah, karena meskipun makan di Rumah Makan Padang tapi kadar kepedasannya sudah disesuaikan dengan selera umum. Sehingga pedasnya kurang nonjok.

Belum lagi kesulitan berkmunikasi pada fase-fase awal. Orang minang dan umumnya orang pulau sumatera terbiasa dengan penyebutan ‘E’ secara keras dan sama rata. Bedakan dengan orang sunda atau jawa yang penyebutan huruf ‘E’ saja berbeda-beda, ada yang halus dan ada yang kasar. Jika anda tidak berhasil melewati fase adaptasi satu ini, cepat atau lambat anda akan dibuat kesal sendiri dengan pertanyaan. ‘Orang Padang , ya? Dasar Padang Bengkok’

Padang Bengkok

Satu hal yang aneh dari orang-orang di rantau adalah menganggap semua orang yang berasal dari Sumatera Barat sebagai orang Padang. Padahal Padang adalah nama sebuah kota yang menjadi ibukota provinsi. Sehingga meskipun berasa dari kota Bukittinggi, Batusangkar, Padang Panjang, dan daerah lainnya di Sumbar tetap saja kalau merantau disebutnya orang padang.

Dianggap orang Padang akan lebih menjengkelkan apabila dipanggil dengan sebutan Padang Bengkok. Tidak jelas memang arti sebenarnya dari kata ini, namun ejekan ini cukup menampol. Bengkok bisa diartikan sebagai tidak lurus, curang, tidak adil, dan lain sebagainya sifat-sifat buruk manusia.

Padang Pelit

Salah satu faktor yang menjadi alasan orang minang dicap pelit adalah karena kalau beli nasi Padang, nasinya sedikit dan tanggung. Sehingga satu porsi nasi rasanya kurang, harus nambah. Berbeda dengan makan di warteg yang umumnya diberi nasi banyak dan menggunung, dna bahkan beberapa warung makan tidak meminta bayaran tambahan jika menambah nasi.

Sebenarnya adal alasan bijak dibalik semua itu. Orang minang bukan pelit, tapi lebih keperhitungan. Kalau memang ingin makan nasi padang dengan porsi menggunung silahkan beli take away (dibungkus/dibawa pulang). Karena sudah menjadi kebiasaan diantara pengusaha rumah makan padang, Orang yang membeli dan makan di tempat biasanya merupakan orang dengan kasta lebih tinggi. Paling tidak punya uang lebih untuk membayar service tambahan.

Perempuan dipaksa Kawin

Salah satu side effect dari kisah masyhur ‘Siti Nurbaya – Kasih Tak Sampai’ adalah anggapan bahwa perempuan minang dipaksa kawin. Padahal perempuan minang Jaman Now sudah bebas untuk berkarir dan bahkan memilih orang yang tepat untuk dijadikan suami. Ya meskipun dengan persetujuan orang tua tentunya, tapi tidak begitu strict seperti di film-film zaman dahulu dimana si perempuan bahkan tidak mengenal calon suaminya.

Laki-Laki Dibeli

Jika perempuan dipaksa kawin, maka laki-laki di Minang dibeli. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, karena hanya beberapa daerah yang (masih) menjalankan tradisi ini. Dibeli disini maksudnya bukan seperti jual beli barang. Istilah dibeli ini lebih pada ‘uang jemputan’ yang harus dibayarkan pihak perempuan pada pihak laki-laki.

Tradisi ini juga menimbulkan kesan bahwa di Minang, justru pihak perempuan yang melamardan meminang laki-laki. Hal ini tentunya berseberangan dengan kebanyakan budaya Indonesia yang menganut sistem Patrilineal (garis keturunan berasal dari garis keturunan bapak).

Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan umum mengenai orang Minang ini. Kami tetaplah perantau minang yang baik hati, patuh pada orang tua dan rajin menabung.