Fox Masterchef Cover

Bermodal Wortel, Telur & Kopi. Pentolan Masterchef Ajarkan Filosofi Hidup

Lama ia termenung. Kemudian dalam pikir panjangnya ia mengambil beberapa buah wortel, beberapa butir telur dan bubuk kopi. Tak banyak bicara. Sedangkan anaknya memerhatikan dengan lekat.

Seorang ayah mendapati anaknya pulang sekolah dalam keadaan lusuh, lesu dan tidak bersemangat. Jagoan kecilnya tersebut duduk lemas di meja makan. Tas sekolah dan beberapa buku berserakan sekenanya di atas meja makan. Si ayah tak tahu apa yang terjadi pada anak lelakinya.

Sekali ia bertanya anaknya kenapa. Si anak hanya diam, mengangkat kepala dan memperlihatkan muka kusutnya. Kali kedua sang ayah bertanya, ia menghampiri dan mengusap kepala anak lelakinya yang sebentar lagi remaja.

“Ayah, kenapa aku berbeda? Kenapa orang lain bisa pintar matematika sedangkan aku tidak. Kenapa teman-temanku yang lain jago main basket dan olahraga sedangkan aku tidak. Kenapa orang lain seumuranku tidak jerawatan sepertiku? Kenapa aku berkulit sawo matang sedangkan yang lain berkulit putih, bersih dan enak dipandang. Kenapa tidak ada yang mau berteman denganku?”

Ayah tak menyangka anaknya akan mengalami pengalaman yang seperti ini terlalu cepat. Ia belum siap dengan pertanyaan anaknya yang bertubi-tubi. Ia tidak tahu harus memulai menjawab dari pertanyaan mana duluan. Hanya satu yang ia tahu, persoalan ini harus diselesaikan segera.

Lama ia termenung. Ia bukan orangtua yang terlalu pintar untuk merangkai kata. Ia sadar latar belakang dan kapasitasnya sebagai juru masak. Kemudian dalam pikir panjangnya ia mengambil beberapa buah wortel, beberapa butir telur dan bubuk kopi. Tak banyak bicara ia meminta anaknya memperhatikan.

Dengan ketenangan khas seorang koki ia menyiapkan tiga panci berisi air dan memanaskannya di atas kompor. Panci pertama ia masukkan wortel. Panci kedua ia masukkan telur. Panci ketiga ia masukkan beberapa sendok bubuk kopi.

“Perhatikan dan jangan dulu bertanya”, Si Ayah menjawab rasa penasaran anaknya. Tentunya anak tersebut tidak mengerti apa yang coba dijelaskan oleh ayahnya tersebut.

Bagaimana mungkin ayahnya menjawab persoalan matematika dengan merebut wortel. Ia tidak yakin apakah ada hubungan telur rebus dengan jago olahraga. Terasa agak masuk akal meskipun terlalu dipaksakan. Ataukah bubuk kopi bisa menjadi skincare yangbisa mencerahkan wajah puber jerawatannya. Siapa tahu. Anaknya membathin.

Tak lama kemudian si Ayah memanggil anaknya mendekat. Meletakkan wortel diatas sebuah mangkok, meletakkan telur di mangkok yang lain dan menuangkan kopi ke dalam cangkir.

“Nak, Apa yang kamu perhatikan? Apa yang bisa kamu simpulkan?” Pertanyaan si Ayah dibalas gelengan oleh anaknya. Dia sama sekali tidak paham apa maksud ayahnya tersebut. Yang ia tahu adalah ayahnya seorang koki yang handal dalam memasak. Bukan seorang pembicara ulung apalagi motivator.

“Kamu lihat ketiga bahan ini, wortel, telur dan kopi? Ketiganya sama-sama dipanaskan dengan api. Namun kamu bisa lihat perbedaannya.”

“Wortel, adalah bahan yang keras. Saat dipanaskan dalam air mendidih ia berubah empuk.”

“Sekarang lihat telur ini, yang awalnya encer. Saat dipanaskan dalam air mendidih, ia berubah menjadi keras.”

“Dan apa yang kamu lihat pada kopi ini? Memang tidak ada yang berubah secara tekstur. Tapi tentu kamu dapat mencium wanginya bukan?”

“Begitulah hidup nak! Jangan kamu mengira setiap orang tidak punya masalah. Yang kamu lihat bahagia belum tentu ia memang seperti kelihatannya. Begitu juga dengan orang yang bersedih. Setiap orang punya permasalahan, hanya saja tiap orang punya cara berbeda dalam menyikapi masalahnya masing-masing”

“Ayahmu hanya seorang juru masak. Ini mungkin analogi yang tepat untuk menjelaskan kepadamu. Apakah kamu mau menjadi seperti wortel, telur atau kopi.”

“Manusia tipe wortel adalah orang-orang yang saat ditimpa masalah akan menjadi lembek, mengeluh dan bahkan menyerah, mungkin kamu hari ini.”

“Manusia tipe seperti telur adalah orang-orang yang saat ditimpa masalah akan menjadi keras. Hatinya menjadi batu. Ia lari dari masalah dan tidak acuh lagi dengan hidup orang lain, bahkan hidupnya”

“Saran ayah, kalau kamu harus memilih. Pilihlah pilihan ketiga. Jadilah manusia seperti kopi. Saat dituang air panas ia mengeluarkan aroma yang wangi. Tidak tahu entah bagaimana yang sebenarnya yang ia alami. Namun dengan masalah yang ia hadapi ia tetap bisa memberikan manfaat bagi orang lain disekitarnya”

“Sampai sini kamu mengertikah?”

Anaknya mengangguk-angguk tak begitu yakin. Si ayah tersenum kecil, ia tahu persis anaknya pelan-pelan akan paham dan belajar dari demo memasak yang tidak begitu lama tersebut.

“Jadilah bermanfaat seperti kopi. Meskipun hitam namun hampir semua orang suka. Jangan menilai dari apa yang terlihat diluar.”