hermit student and Mr. Krabs

Petuah Bijak Petapa Untuk Muridnya dan Tuan Krabs yang Kaya Raya

“Niat baik untuk menolong tentu sangat terpuji. Namun menolonglah dengan bijaksana”

Seorang muda mendatangi seorang petapa untuk belajar kebijaksanaan. Petapa tersebut menolak keinginan anak muda tersebut. Ia bukan seorang guru, begitu ia menolak dengan halus. Bahkan ia pun masih sedang belajar kebijaksanaan dari alam.

Tak putus asa, anak muda tersebut meminta ijin untuk mengikuti petapa tersebut. Ia bersikeras hingga Petapa tak punya pilihan lain. Ia menerima dengan syarat anak muda tersebut tidak banyak bertanya dan menganggu si Petapa.

Hingga pada suatu hari. Di sebuah tepian sungai yang tidak terlalu deras. Petapa mengambil posisi meditasi menghadap sungai. Di sisi sungai satunya menjadi posisi yang diambil anak muda, yang tetap menganggap dirinya murid.

Tak seperti gurunya yang dengan cepat bisa bermeditasi. Anak muda tersebut masih sering terganggu dengan gemericik air didepannya.

Di salah satu batu di tepi sungai, ia melihat seekor kepiting tengah berusaha meraih puncak batu. Ia merasa kasihan melihat kepiting kecil itu terombang ambing arus sungai. Memang tidak terlalu deras namun cukup untuk menumbangkan usaha si kepiting.

Merasa terpanggil. Anak muda tersebut menyodorkan jarinya. Kepiting kecil itu berpegangan dengan capitnya. Sambil menahan rasa sakit, kemudian anak muda tersebut mengangkat kepiting ke atas batu. Kepiting melepaskan capitannya. Anak muda tersebut merasa senang bisa menolong kepiting.

Namun tak lama, kepiting tersebut kembali jatuh ke air. Anak muda tersebut melihat kepiting itu kembali berusa naik ke atas batu.

Tanpa pikir panjang, Ia menyodorkan jarinya untuk kembali membantu kepiting naik ke atas batu. Kini ia mendapati dua luka keci di jarinya. Bekas capitan kepiting. Namun sakitnya ia tahan, Ia merasa senang bisa membantu kepiting. Ia bangga pada dirinya sendiri. Ia membathin, gurunya pasti ikut bangga.

Senyumnya tak lama. Kepiting itu jatuh untuk kesekian kalinya. Bergegas ia ke tepian air hendak membantu kepiting.

Namun, tanpa disangka kemudian gurunya telah berada di depannya menyodorkan ranting kayu.

“Jangan gunakan jarimu. Gunakan ranting kayu ini” ucap si petapa. Anak muda tersebut manut.

Setelah kepiting tersebut dinaikkan ke atas batu. Sebelum anak muda tersebut sempat bertanya. Petapa sudah lebih dulu menjelaskan.

“Niat baik untuk menolong tentu sangat terpuji. Namun menolonglah dengan bijaksana. Jangan sampai kau mengorbankan dirimu sendir hanya demi menorong orang lain”

“Lihatlah sekarang jarimu luka. Memang hatimu senang bisa menolong. Namun kemudian siapa yang akan menolong luka-lukamu?”

“Jangan hanya karena kamu berbuat baik, semua orang akan melakukan hal yang sama padamu. Dunia tidak bergerak dengan aturan seperti itu”

“Namun bukan berarti ini menjadi alasan kamu berhenti berbuat baik. Teruslah berbuat baik. Namun jangan lupakan kebijaksanaanmu. Agar ketulusanmu membantu orang tidak kemudian menjadi luka yang hanya bisa kamu tahan sendirian”