merantau

Suka Duka Menjadi Perantau Minang

Merantau adalah warisan turun temurun dan sudah mengakar dalam tradisi masyarakat Minangkabau. Tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Tradisi ini diturunkan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa, diteruskan oleh manusia purba, yang dikenal dengan tradisi nomaden. Kemudian dibawa oleh Alexander The Great dan mengajarkannya pada nenek moyang orang Minangkabau.

Merantau secara harafiyah adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ataupun dalam makna yang lebih luas dapat diartikan sebagai berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain yang diharapkan lebih baik dari kondisi sebelumnya. Dalam situasi ini, merantau mungkin bisa diartikan sebagaimana hijrah yang dilakukan oleh Nabu Muhammad SAW.

Kapan Harus Merantau?

Dalam tradisi masyarakat minang tempo dulu, dan bahkan hingga sekarang, merantau biasanya hanya punya dua tujuan utama. Yaitu untuk mencari pekerjaan (dan kehidupan) baru atau untuk melanjutkan pendidikan. Karena itu biasanya seseorang pemuda minang akan mulai merantau ketika ia mulai beranjak dewasa. Zaman sekarang biasanya setelah ia menamatkan pendidikannya di SMA.

Kids Zaman Now sebagian besar mulai menjajaki rantau untuk melanjutkan pendidikan dan perkuliahan. Sebab perguruan tinggi negeri di kampung halaman jumlahnya terbatas. Atau mereka ingin melanjutkan di perguruan tinggi diluar wilayah Minagkabau.

Kenapa Harus Merantau?

Dalam petatah dan petitih minang dijelaskan bahwa seorang pemuda yang belum pernah merantau dianggap masih kacangan, tidak berpengalaman. Masih dianggap seperti anak-anak dan beum bisa dianggap ‘berguna’ di masayrakat.

Melatih Kemandirian

Perantau minang sejati punya prinsip ‘pantang pulang sebelum sukses’. Dalam proses, banyak orang yang kalah dan menyerah sehingga harus kembali pulang ke kampung halaman. Namun tak sedikit perantau minang yang bisa survive di tanah seberang. Baik itu untuk menyelesaikan pendidikannya maupun untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Meningkatkan Persaudaraan

Ada hal yang unik diantara sesama perantau minang. Dari orang-orang yang tidak saling kenal, namun ketika bertemu, atau bahkan hanya mendengar, orang lain berbicara bahasa minang, secara refleks mereka akan menjadi akrab seolah bersaudara.

Salah satu paguyuban yang paling memegang peranan penting untuk mempertemukan darah-darah minang adalah rumah makan padang. Disini sekaligus menjadi tempat mengadu nasib dan melepas kerinduan dengan kampung halaman. Rindu dengan masakan rumah dan serba-serbi yang khas Minangkabau.

Agar Kamu Tahu Mahalnya Ongkos ke Padang

Ada sebuah anekdot populer diantara perantau minang. ‘Merantaulah, agar kau tahu mahalnya ongkos ke Padang’. Hal ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Setiap kali menjelang Lebaran Idul Fitri, harga tiket pulang kampung naik gila-gilaan.

Kebiasaan orang minang yang rata-rata hanya pulangs sekali setahun, pas moment idul fitri, dimanfaatkan oleh pelaku bisnis tranportasi. Bagaimana tidak, disaat demand (permintaan) tiket pesawat tinggi, mereka menaikkan harga tiket dengan sangat fantastis.

Sehingga wajar saja banyak orang yang punya uang pas-pasan tidak pulag-pulang kampung. Sebagai perantau yang memiliki prinsip ‘Daripado bansaik dibaok pulang, bialah rantau den pajauah’ (daripada pulang miskin, lebih baik merantau lebih jauah).

Tips: Makan Hemat di Rantau

Semua permasalahan ada solusinya, tergantung seberapa cerdik dan tahan seseorang mampu bertahan dalam masalah. Termasuk urusan Sumatera Bagian Tengah (Perut). Sebagai sesama perantau minang, pemilik rumah makan padang biasanya sudah menydiakan solusi yang pas untuk para fakir-fakir di tanggal tua yang foya-foya di tanggal muda.

Paket Hemat

Sudah menjadi rahasia umum, kalau nasi padang yang dibungkus porsinya lebih besar daripada makan di tempat. Kenapa? Karena biasanya biaya produksi untuk nasi yang dibungkus lebih rendah daripada makanan yang dimakan di tempat. Karena tidak butuh biaya tambahan untuk tukang cuci piring, tukang lap meja dan bersih-bersih.

Untuk anda yang ingin makan enak namun tetap kenyang, ada baiknya mencoba tips yang satu ini.

Paket Super Hemat

Paket ini bisa menjadi pilihan anda yang sangat minim dana untuk makan, biasanya para mahasiswa di tanggal tua. Dengan uang yang pas-pasan namun masih pengen makan enak. Anda bisa membeli lauk dan sayur di rumah makan padang. Caranya, lauk dan sayur dibungkus (plastik) terpisah. Biasanya sayur yang diberikan lebih banyak dibanding jika lauk+sayur dicampur (ramas) dengan nasi. Lauk dan sayur ini bisa anda bagi dua, dan dicukupkan untuk makan dua kali.

Apalagi jika anda sudah menguasai jurus khusus, yaitu kemampuan memelas. Anda bisa minta ekstra sambal (cabe) atau ekstra sayur ke pemilik rumah makan Padang. (Adegan ini hanya dilakukan profesional, jangan ditiru tanpa pendampingan ahli)Serta masih banyak lagi tips bertahan hidup di tanah rantau.

Merantau itu berat, kamu nggak akan kuat, Biar aku saja