pesan terakhir

[SCBD 3] Pesan Terakhir

Sebagaimana sudah ku ceritakan sebelumnya, Husein, temanku ini memiliki dunia yang berbeda, dalam artian positif, dengan orang lain di dunia. Jika orang lain cenderung berbuat sesuai norma dan kebiasaan yang sudah lazim, temanku satu ini seringkali melawan dunia dengan aksi-aksi konyol cenderung gilanya. Namun yang ku lihat adalah ide-ide briliant yang mungkin dianggap orang lain sebagai sebuah kegilaan.

Husein sering menemaniku begadang, kami berdua adalah dua pria nocturnal yang aktif di malam hari dan mengantuk di siang hari. Aku selalu tidur larut malam, mengobservasi dunia di kala malam adalah kesenanganku. Selain tentunya tuntutan deadline dan tugas kuliah yang tidak bisa harus dikerjakan tepat waktu. Menunda satu pekerjaan sama saja dengan mengkuadratkan beban dan stres pengerjaan di waktu yang akan datang.

Kadang aku tertawa sendiri. Aku dan Husein meskipun hoby begadang, kami punya shift istirahat yang berbeda. Jikalau tidak sedang keluar, teman gondrongku ini sudah tidur bahkan sejak setelah waktu shalat isya. Ia biasanya bangun sekitar jam 10 atau jam 11 dan akan terus terjaga hingga pagi. Sedangkan aku, sebagai orang yang sangat susah bangun jika sudah bertemu kasur, tidur di awal waktu adalah hal yang sangat aku hindari. Sebelum semua tugas dan pekerjaanku terselesaikan, pantang bagiku untuk merebahkan diri.

Penyakit ‘susah bangunku’ ini kemudian menjadi hal yang sangat aku sesali. Setelah semalaman pikiranku berkecamuk mengira-ngira apa yang terjadi pada teman yang sudah seperti saudaraku ini. Aku ketiduran setelah shalat shubuh. Dalam setengah sadar aku merasa Husein mencoba membangunkanku dan ada sebaris kalimat yang ia ucapkan.

Aku tidak bisa mendengar dengan jelas, aku hanya mengiyakan dan melanjutkan tidurku kembali. Aku berpikir itu hanya sebuah ucapan basa-basi. Paling juga itu orang gondrong pamit untuk duluan berangkat ke kampus.

Dalam tidur otakku bekerja dua kali lipat. Ada yang aneh dengan Husein pagi ini. Orang yang sangat ‘last minutes’ ini tidak pernah bangun sepagi itu. Sebagaimana ku ceritakan padamu, ia sangat santai, dalam urusan apapun tanpa terkecuali.

Aku bangun dengan kepala pening, tak hanya kurang tidur, tingkah aneh Husein menjadi tanda tanya besar bagiku. Memang dia bukan keluargaku, bahkan keluarganyapun aku tak kenal, hanya saja berkawan dengannya sudah cukup lama membuat ia sudah bagaikan saudara bagiku. Sudah banyak keluh kesahku di perantauan yang diubahnya menjadi sebuah lelucon menertawakan aku yang terlalu lembek dan mudah menyerah.

Aku pamit. Setelah gala aku pulang.

Emosiku membuncah membaca pesan singkat dari orang yang bahkan tidak pernah tahu basa-basi ini. Percakapan kami di telepon selalu sama, menanyakan sedang dimana, bawa kunci apa tidak. Hanya itu topik yang kami bahas di telepon ataupun pesan singkat. Tak lebih tak kurang.

Pesan singkat yang bahkan tidak aku balas, karena memang aku tidak tahu harus membalas apa, itu menjadi percakapan terakhir. Satu dua hari aku tunggu, orang gondrong itu tidak pernah pulang. Bahkan satu hari sebelum gala yang ditanganinya, aku bahkan tidak melihat jejak ia pulang ke kosan dan mengambil kostum kebesaran yang selalu ia kenakan saat gala.