depresi dan bunuh diri

[SCBD 1] Sebuah Catatan Bunuh Diri

“Aku rasanya ingin mati saja.

Toh, tidak ada lagi yang harus aku perjuangkan di dunia ini.

Putus sudah tali pengharapanku yang terakhir”

Seperti yang ia ceritakan kepadaku. Membuatku setengah kaget kala itu. Gondrong satu ini memang setengah gila. Kadang susah bagiku membedakan ucapan mana yang serius ataupun bagian dari fantasi gilanya. Maklum, sebagai orang yang setiap hari bergelut dengan urusan teater tak jarang hidupnya pun bagai sebuah drama. Hanya saja aku tidak tahu peran apa yang ia mainkan kali ini.

Namanya Husein. Ia sudah lama tinggal satu atap denganku. Sebagai mahasiswa yang lebih tua beberapa semester, ia terkesan cuek dengan masa depan sebagaimana dideskripsikan banyak orang. Baginya rencana menjadi seorang sarjana lalu bekerja menjadi budak korporasi, bebrapa tahun kemudian menjalani hubungan membosankan yang disebut ‘pernikahan’ adalah sesuatu yang sia -sia. Hanya membuang-buang waktu. Sehingga wajar saja orang dengan rambut hampir sebahu ini selalu easy going. Baginya masalah adalah apa yang ada di depan mata, bukan apa yang ada di masa depan yang belum tau bentuk rupanya, apalagi carut-marut di masa lalu.

Saat ia berujar akan keinginannya untuk mati, aku setengah tidak percaya. Memang kerapkali ia melontarkan kata-kata di luar batas nalar dan aku tahu itu adalah demi kepentingan proyek pertunjukan yang digarapnya. Diawal-awal berteman dengannya aku seringkali terkejut dengan tingkah aneh pria gondrong tersebut, makin kesini aku semakin sadar bahwa ternyata totalitas dengan kegilaannya sudah sangat sukar dibedakan.

Teman seatapku ini memang unik, cenderung aneh, dan memiliki dunianya sendiri, Ia seringkali bercerita akan fantasinya yang tak jarang ia mainkan dengan acting yang total dan tidak dibuat-buat. Pernah sekali ia bercerita tentang tokoh idolanya untuk menyemangati dan menghibur diri yang tengah stress dengan buku-buku ini sambil memeragakan dengan tangan bahkan acting-nya . Sehingga aku bisa merasakan hanyut dalam ceritanya. Aku bisa merasakan bahwa Tan Malaka, orang yang diceritakannya duduk bersebelahan denganku, batuk-batuk berjuang melawan penyakit paru-paru yang dideritanya serta pahitnya kebodohan untuk orang yang malas menuntut ilmu. Aku merasa kerdil dihadapan Datuk Tan Malaka yang ia hadirkan lewat fantasinya.

Kala itu aku masih berjaga tengah malam menyelesaikan deadline tugas kuliah. Ditemani gelas kopi kedua dan senandung lagu khas Minangkabau, asal dimana kami berdua berasal. Suasana yang sangat sunyi, sampai aku tak perlu dua kai memastikan bahwa yang barusan berucap ingin mati itu adalah Husein, teman gondrong-ku itu.

“Aku rasanya ingin mati saja.

Toh, tidak ada lagi yang harus aku perjuangkan di dunia ini.

Putus sudah tali pengharapanku yang terakhir”

“Hei bangun, kau terlalu memperturutkan setan yang ada di kepalamu, ” kataku setengah berteriak, kesal dengan ucapannya yang kali ini sudah sangat diluar batas normal. Karna bagiku orang yang menyerah dan bunuh diri adalah orang yang paling bodoh. Aku benci mereka melebih orang bodoh manapun.