scbd - sebuah gala

[SCBD 2] Sebuah Gala

Apapun bisa terjadi dalam dua tahun, Blo. Semua kemungkinan bisa saja menghadang lajumu di depan, atau justru menarikmu untuk berlari lebih cepat.

Ia memanggilku dengan sebutan, Blo. Akupun memangggilnya begitu. Ia memanggilku demikian untuk mengolokku tentang status jomblo yang telah lama aku sandang. Sedangkan aku memanggilnya Blo , pelesetan dari kata Bro. Sebuah panggilan untuk orang yang sudah ku anggap saudara tersebut.

Detik ia menasehatiku itu terdengar sungguh aneh. Bagaimana tidak aneh ketika orang yang hidup tanpa prinsip mengajarimu tentang prinsip-prinsip kehidupan. Aku setengah tidak percaya orang yang bahkan hampir tidak percaya Tuhan ini mengajariku bagaimana untuk menjalani nikmat tuhan yang paling utama, yaitu kehidupan. Aku serasa tengah menjalani kuliah tentang konsep ketuhanan dengan dosen seorang atheist.

Frasa bijak ini meluncur dari mulut Husein, teman gondrong seatapku itu demi mendengar olokanku tentang hidupnya yang sangat santai dan tanpa perencanaan.

Bukankah sudah aku bilang, bicara masa depan itu semacam cerita bohong. Bagiku itu tak beda dengan berlembar-lembar script pertunjukan yang aku tulis ini. Aku bisa saja menulis dengan indah semuanya. Hanya saja di tengah jalan akan ada tokoh antagonis dan tangan lain yang memaksamu untuk pindah dari jalur yang sudah kamu gariskan.

Berteman dengan Husein benar-benar bisa memutarbalikkan keadaan. Ia membuka mataku tentang bagaimana menertawakan hidup. Bagaimana dengan lihainya ia mengubah tragedi menjadi komedi. Orang gila satu ini bahkan selalu punya ide-ide, yang tentunya gila, di kepalanya yang siap untuk diceritakan dengan gayanya yang khas dan meledak-ledak.

Pernah satu kali ia merubah ruang sempit berukuran 4×4 meter ini layaknya sebuah dasar laut. Ia mengajakku menyelam ke dasar fantasinya, melewati lapisan demi lapisan dasar laut. Aku, karena fantasinya, ikut menyelam melewati batas-batas fantasi lautan, semakin jauh dari sinar matahari kewarasan.

Kita sudah hampir sampai, Blo! Kamu bisa lihat Bikini Bottom di bawah sana. Pattrick dan Spongebob sudah menunggu kita.

Dengan bodohnya aku mengiyakan dan tertawa betapa magisnya dari ‘dukun’ satu ini telah membutakan mataku dari nilai-nilai kewarasan seorang akademisi.

Begitulah Husein merancang pertunjukkan yang akan dia tampilkan. Ia, bersama teman fantasinya, memperagakan setiap detail, scene demi scene yang akan dipertontonkan di depan khalayak ramai yang sudah menunggu hasil tangan dingin gondrong satu ini.

Namun ada yang berbeda dari raut wajahnya kali ini. Orang yang teramat ekspresif ini menurutku terlalu melankolis. Aku tidak tahu apakah ia terlalu larut dalam peran yang diciptakannya kali ini atau bagaimana. Akupun tidak tahu. Aku hanya terngiang kembali ucapannya tempo hari, apa saja bisa berubah dalam dua tahun. Jangankan dua tahun, temanku ini bisa berubah hanya dalam satu malam.

Setelah igauan tengah malamnya dan semua ide gilanya untuk mati itu aku melihat ada yang berbeda darinya. Aku memang sudah cukup lama berteman dengannya, hanya saja ia tak pernah bercerita sepatah katapun tentang hidupnya, tentang keluarganya atau hal lainnya. Yang meuncur dari mulutnya hanyalah ide-ide setengah gila ataupun persiapannya untuk gala.

Kala itu pertengahan April, dan gala yang akan ditampilkannya hanya berselang tujuh hari. Aku tahu memang itu adalah sebuah pertunjukkan yang sangat menguras energi, hanya saja aku belum pernah melihat Husein setidak semangat ini. Bukankah harusnya ia justru lebih sibuk dari biasanya.

Lu kenapa blo? Kehabisan duit lagi? Gue ada nih, kalo lu mau?

Saat itu senin, 16 April, sehari setelah teman gondrong yang sudah seperti saudaraku ini terbangun dengan keinginannya untuk mati. Ia tak melengos dan memunggungiku di kasurnya yang sudah tipis. Aku sangat ingin membantunya namun dia memang orang yang keras kepala. Orang yang terbiasa hidup sendiri, bahkan dalam masalah.

Malam itu aku merasa ada yang mengganjal dalam hatiku, ada rasa yang ingin aku tumpahkan. Kenapa orang yang sudah melewati banyak hari berjuang bersama di perantauan satu ini sangat tertutup kepadaku.

Aku menutup laptop meninggalkan deadline yang harus ku kerjakan malam itu. Hatiku tak enak. Penuh tanda tanya, apa benar Husein serius dengan keinginannya untuk mati. Harus dengan cara apa aku memaksannya bercerita. Aku ingin menolongnya sebisaku, tapi ia sudah memberi tanda bahwa ia tak butuh pertolonganku.

Malam itu terasa sangat panjang. Tidak hanya bagi Husein tapi juga bagiku. Aku tidak tidur sepicingpun melihat ia gelisah tak bisa tidur.

Ada apa dengan Husein? Entahlah, ia seperti bukan orang yang ku kenal.