kursi sang pesakitan

[SCBD 4] Kursi Sang Pesakitan

“Bukankah kau yang telah berjanji ketika saya diusir oleh Ninik Mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina, tidak tulen Minangkabau, ketika itu kau antarkan saya di simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanganku berapapun lamanya, tapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah kaya raya, berbangsa, beradat , berlembaga, berketurunan, kau kawin dengan dia.”

Aku sangat tahu barisan kalimat demi kalimat itu. Itu merupakan cuplikan dari sebuah film yang diangkat dari novel masyhur karya seorang buya asal Minangkabau, negeri dimana aku berasal. Meskipun sudah berulang kali menonton film yang bercerita tentang kisah roman Zainudin dan Hayati ini, aku tidak pernah bosan. Bahkan saat Husein, teman gondrong seatapku itu mengangkat kisah novel dari Buya Hamka, idolanya, menjadi sebuah pertunjukan teater, aku berdiri paling depan untuk menyemangatinya.

Menit demi menit pertunjukan berlalu. Aku tidak begitu konsentrasi dengan penampilan teater yang sebagian besar scene-nya sudah diceritakan oleh Husein, bahkan hingga detail kecilnya aku tahu. Aku sibuk memperhatikan ruang kontrol, biasanya orang satu ini sangat hobi untuk menyaksikan karyanya dipentaskan dari ruang yang dipenuhi tombol-tombol pengatur lampu dan sound tersebut. Namun aku tidak melihat batang hidungnya di sana. Kemanakah sang sutradara? Tidak mungkin dia absen di ‘kursi pesakitan’ ciptaannya ini Dimana sukses dan gagalnya persiapan berbulan-bulan ditentukan oleh majelis hakim, yang tak lain dan tidak bukan adalah penonton yang jumlahnya ratusan.

Hingga akhir pertunjukan, hingga saat Kapal Van der Wijck yang mengangkut hayati beserta semua dosa dan penyesalan di masa lalu itu tenggelam dengan tragisnya, aku tidak menemukan orang yang ku cari. Husein, teman gondrong seatapku. Bahkan saat layar panggung ditutup dan MC mengambil alih acara, mengucapkan baris-baris terimakasih untuk tamu kehormatan yang telah hadir beserta semua pihak yang mendukung terlaksananya acara tersebut. Hingga saat nama Husein, Sutradara dan otak dari penampilan tersebut dipanggil ke atas panggung, ia tidak hadir. Meninggalkan MC dengan kecanggungan karena harus memanggil berulang-ulang.

Tamu undangan satu persatu meninggalkan kursi penonton dengan penuh emosi, larut dalam kisah cinta menyayat hati. Banyak diantara penonton yang menggoda pasangannya dan memerankan Zainudin sementara pasangannya memerankan Hayati. Aku sedikit terhibur, artinya jerih payah Husein terbayar lunas, ia terbukti dengan sah dan meyakinkan bahwa pertunjukan yang ia tampilkan tidak memiliki cela.

Aku mencarinya dari sudut ke sudut ruangan yang lain. Hingga ruangan nyaris kosong, panggung pertunjukan mulai dibereskan dari segala properti dan alat musik.

“Sudahlah, mungkin dia sedang pusing dengan hutang pasca pertunjukan”

Aku membatin. Aku berniat untuk pulang, meskipun terasa canggung, apalagi aku datang sendiri, tidak ada yang aku kenal disini kecuali manusia berambut gondrong otak dari pertunjukan yang baru saja aku setengah nikmati.

Aku kaget ketika hendak berdiri, aku memperhatikan ada sosok di kegelapan. Ia berada di tribun atas, berseberangan dariku. Meski dalam gelap, aku tahu dia adalah orang yang aku cari-cari. Ia menatap kepadaku, tapi aku bisa melihat kekosongan dari bola matanya. Tanpa banyak pikir, aku langsung menyusulnya di tribun atas. Ada banyak emosi dan sumpah serapah yang ingin aku tumpahkan.

“Eh Gondrong, lu kenapa? “

Ia hanya tersenyum satu dua detik kemudian menatap jauh ke atas pangggung. Aku tahu senyuman itu sangat terpaksa dan sangat bukan Husein yang aku kenal. Aku surut untuk memarahi bocah yang tak pulang-pulang tanpa kabar berita. Baru kali ini aku melihatnya berada dalam lembah paling bawah, ada banyak awan hitam yang bergayut di kepalanya. Sedetik sebelum aku bertanya, mulutnya mulai terbuka, bagai bisa membaca pikiranku.

Gue menyerah blo, semakin gue memaksakan apa yang gue suka. Semakin gue nggak bisa diterima.

Aku tidak mengerti apa yang diucapkannya. Aku tidak tahu entah orang mana yang tidak bisa menerima orang yang menurutku sangat menginpirasi ini, orang dengan banyak karya, orang dengan prinsip dan idealisme, setidaknya bagiku. Hanya sebaris kalimat itu yang ia ucapkan. Tanpa banyak penjelasanpun aku tahu ada masalah besar di yang ada di kepalanya, hanya saja aku tetap belum mengerti.

Aku tidak tahu harus menjawab apa, lidahku kelu tak bisa berkata apa-apa. Cukup lama kami duduk tidak saling bicara, menatap panggung yang mulai kosong. Lampu sudah dimatikan satu persatu, meninggalkan kelam yang makin menambah sunyi senyapnya malam itu.

“Ayo pulang!!, ” Kataku kemudian.