Siklus Kehidupan Manusia

Siklus Kehidupan Manusia. Pilih Menjadi Orang Keras, Bijak atau Lemah?

“Kalian masih mending, dulu zaman Ayah untuk makan saja susah. Apalagi untuk sekolah. Tapi untungnya Ayah tidak pernah menyerah, Nenek kalian terus menyemangati untuk sekolah yang tinggi. Menjadi orang yang sukses. Memiliki keluarga”

Hikmah dari sebuah pertemuan. Ada banyak hal yang bisa diceritakan. Ada banyak kisah yang akhirnya menjadi bulir-bulir kebijaksanaan yang mungkin banyak dialami dan dimaklumi. Hanya saja tak cukup kata untuk mendeskripsikan hikmah tersebut.

Seorang teman pernah bercerita. Ia memiliki bossman yang sangat sederhana. Kadang ia dan karyawan lainnya merasa malu. Bagaimana tidak, saat karyawan yang mengandalkan gaji bulanan dengan bagai tanpa dosa pamer gaya hidup perkotaan, mevvah katanya. Sedangkan di satu sisi, pemilik perusahaan tersebut bahkan masih makan dari kotak bekal, yang dititipkan istrinya.

Saat karyawan yang saat jam makan siang menunggu driver ojol membelikan makan, si Bossman ini kadang ikutan menunggu ojol. Bedanya ia menunggu bekal makan siang dari rumah, yang mungkin karena buru-buru ia lupa bawa.

Pernah suatu kali ada karyawan yang penasaran dan keceplosan bertanya. Kenapa boss masih saja bawa bekal makan siang, padahal mampu untuk membeli makan apasaja, harga pasti bukan jadi masalah.

“Orang tua saya dulu mengajarkan untuk hidup sederhana. Syukur dan ikhlas. Belasan tahun saya dibesarkan dengan makanan seperti ini, lidah saya tak begitu hapal dengan makanan anak jaman sekarang”

Dalam banyak kesempatan kadang boosman bercerita bagaimana masa kecilnya. Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Orangtuanya hanyalah buruh tani. Pendapatan satu hari hanya cukup untuk satu hari. Untuk bossman bisa sekolah otomatis ia harus ikut membantu mencari biaya sendiri sepulang sekolah.

Kerja keras memang tak pernah mengkhianati hasil. Dalam waktu singkat ia bisa merintis usaha dari nol menjadi perusahaan yang cukup menghidupi puluhan karyawan.

Namun, dari kesederhanaan bossman ada hal yang cukup menarik. Anak-anaknya sangat milenial. Dari feed Instagram mereka, semua bisa menilai bahwa mereka adalah keluarga berada. Meskipun adanya begitu. Bapak mereka adalah pengusaha yang sukses.

Keadaan yang sangat kontras memang, kadang sesekali karyawan mendapati bapak anak makan siang di kantor. Si Bapak makan dari kotak bekal masakan istrinya, dan anak-anak makan dari delivery restoran-restoran milenial.

“Saya belasan tahun hidup susah. Makan saja susah dan itu sangat tidak mengenakkan. Untuk itu saya berjanji pada diri saya. Bagaimanapun juga susahnya, saya harus kerja keras. Saya tidak mau keluarga saya makan susah.

Mereka butuh makanan enak, untuk bisa fokus belajar. Mereka butuh rumah yang layak dan nyaman untuk bisa belajar.

Mereka harus sukses, melebihi saya. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan fasilitas terbaik, termahal.

Dulu saya susah, saya tak ingin anak saya susah.

Sekilas terlihat hasil pemikiran dan perkataan bossman sangat brilian. Ia memiliki visi yang sangat terarah dan terukur. Ia hanya ingin yang nomor satu untuk keluarganya.

Makanan yang nomor satu, tidak seperti beras murah yang dulu ia makan. Pendidikan nomor satu, pendidikan orang kota. Hunian yang nyaman, bukan gubuk reot yang dulu ia tempati. Tanpa listrik, hingga ia harus menyelesaikan PR di temaram lampu minyak tanah.

Namun, apa yang terjadi berikutnya? Anak-anak tumbuh dengan dunia seluas frame yang dibingkai oleh bapaknya tadi. Anak-anak tidak tahu minta tolong, tahunya hanya memerintah, ini itu.

Anak-anak tidak tahu menghargai. Saat barang lama sudah old fashioned mereka meminta ganti dengan yang terbaru. Dan semuanya sudah tentu diikuti bossman. Ia menuruti semua keinginan dan permintaan anak-anaknya.

Anak-anak tumbuh manja, mereka hidup keras kepala. Bahkan salah satu hal yang paling miris adalah saat mereka tumbuh menjadi orang yang tidak tahu berjuang. Tidak mengenal berusaha dan kerja keras.

Sangat kontras memang. Saat bossman yang sangat mandiri dan bahkan tidak mau terlalu membebani karyawannya. Di sisi lain, anak-anaknya bahkan sering membiarkan tugas sekolah tidak dikerjakan.

Pernah suatu kali orang tua bossman datang, kakek nenek anak-anak ini rindu bertemu dengan cucunya. Tapi tampaknya rindu tak berbalas, cucu-cucu bahkan tidak mau menyalami mereka. Sangat sedih memang. Kita tahu bossman bak makan buah simalakama.

Di satu sisi, ia tak mau menegur anaknya, takut membuat mereka unpleasant. Sedangkan di sisi lain, ia tidak tega orang tuanya bakal diabaikan oleh cucu-cucu mereka.

Namun apa bisa dikata. Itulah siklus hidup. Harus selalu ada yang berjuang dan ada yang dikorbankan. Ada yang diperjuangkan dan yang berkorban.

“Generasi keras akan melahirkan generasi bijak. Generasi bijak akan melahirkan generasi lemah. Generasi lemah akan melahirkan generasi keras.

(Anonim)

Banyak kisah orang hebat yang dulunya berasal dari keluarga yang kehidupannya keras. Peluh dan perjuangan membuat anak terlahir bijak. Ia tak ingin generasi setelahnya bernasib sama seperti dirinya.

Namun karena terlalu dimanja, generasi kedua tumbuh menjadi generasi yang hidup hanya dengan frame yang dibingkaikan orang tuanya. Apa yang ia tahu adalah soal kesenangan, bukan tentang berjuang mendapat kesenangan tersebut.

Setelah orang tuanya meninggal, sedikit demi sedikit warisan keluarga akan habis terkuras. Harta tidak bisa membantu banyak. Generasi kedua kemudian menyesalkan. Ada warisan yang harusnya mereka warisi dari Bapaknya. Tentang berjuang dan kerja keras.

Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Roda telah berputar. Ia kini berada di bawah. Terinjak-injak dan memikul beban paling besar.

Lalu apa yang bisa ia wariskan pada generasi ketiga, generasi setelahnya? Hanyalah penyesalan.